Elon Musk
Membayangkan AI dan robot mendorong produksi menuju kelimpahan, sehingga pekerjaan, pendapatan, harga, dan fungsi uang dapat berubah secara mendasar.
Menimbang Visi Elon Musk, Nilai Philip Kotler, dan Logika Kelangkaan dalam Satu Kerangka Analitis
Ketika AI dan robot menjanjikan kelimpahan, pertanyaan sebenarnya bukan "apakah uang akan hilang?" β melainkan apa yang justru menjadi langka ketika hampir segalanya dapat diproduksi?
Membayangkan AI dan robot mendorong produksi menuju kelimpahan, sehingga pekerjaan, pendapatan, harga, dan fungsi uang dapat berubah secara mendasar.
Membantu kita melihat sisi lain: teknologi bukan hanya soal membuat lebih banyak, tetapi soal bagaimana nilai diciptakan dan dirasakan manusia.
Dalam khazanah pemikiran ekonomi konvensional, kelangkaan (scarcity) dipandang sebagai persoalan fundamental. Keinginan manusia tidak terbatas, sementara sumber daya bersifat terbatas. Dari ketegangan inilah lahir pilihan, biaya peluang, serta mekanisme harga yang mengatur alokasi sumber daya.
Namun, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan robotika membuka horizon yang berbeda. Apabila mesin mampu menghasilkan barang dan jasa dalam jumlah sangat besar dengan biaya yang terus menurun, maka sebagian bentuk kelangkaan berpotensi berkurang secara signifikan.
Elon Musk, dalam berbagai forum publik β termasuk wawancara di Viva Technology 2024 dan beberapa unggahan di platform X β membawa gagasan ini ke titik ekstrem. Ia membayangkan AI dan robot menghasilkan begitu banyak barang dan jasa sehingga konsep pendapatan dan uang sebagaimana kita kenal saat ini mungkin mengalami transformasi mendasar. Ia bahkan menyinggung kemungkinan universal high income (bukan sekadar universal basic income) ketika pekerjaan manusia tidak lagi menjadi sumber utama daya beli.
Salah satu fondasi pemikiran ekonomi adalah kelangkaan. Karena sumber daya terbatas, manusia harus memilih. Dari pilihan, muncul biaya peluang. Dari interaksi permintaan dan penawaran, terbentuklah harga.
AI berpotensi mengubah bagian penting dari persamaan tersebut. Jika robot dapat bekerja tanpa batas jam kerja manusia dan sistem produksi semakin otomatis, jumlah output dapat meningkat jauh lebih cepat daripada permintaan efektif.
Ini bukan berarti semua harga pasti turun. Energi, tanah, bahan baku tertentu, kebijakan pemerintah, daya beli, struktur pasar, dan perilaku konsumen tetap menentukan. Namun, terdapat kemungkinan penting: teknologi dapat mengurangi kelangkaan pada sebagian barang.
Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami satu konsep ekonomi yang sering terlewat dalam diskusi populer: teori nilai subjektif.
Sejak Marginal Revolution pada 1870-an β yang digagas Carl Menger, William Stanley Jevons, dan LΓ©on Walras β ekonomi modern meninggalkan gagasan bahwa nilai berasal dari biaya produksi. Sebaliknya, nilai ditentukan oleh penilaian subjektif individu terhadap manfaat marginal suatu barang.
Artinya: sesuatu bernilai bukan karena sulit dibuat, tetapi karena seseorang menganggapnya berharga. Ini adalah kunci untuk memahami mengapa kelimpahan produksi tidak otomatis menghapus nilai.
Ketika AI membuat produksi menjadi murah, nilai tidak hilang β ia berpindah ke dimensi yang tidak dapat direplikasi mesin: makna, pengalaman, kepercayaan, dan identitas.
Jika Musk berbicara tentang kapasitas produksi, Kotler mengajak kita bertanya tentang nilai. Dalam Marketing 5.0: Technology for Humanity (Wiley, 2021), Philip Kotler bersama Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan merumuskan lima konsep kunci:
Di sinilah muncul pertanyaan reflektif yang sering luput:
Jawabannya bukan lagi soal siapa yang paling sulit membuat. Nilai berpindah ke pengalaman, kepercayaan, personalisasi, reputasi, identitas, komunitas, cerita, dan hubungan manusia.
Semakin AI membuat barang mudah diproduksi, semakin besar kemungkinan pusat kelangkaan bergeser dari "barang" ke "nilai". Produk dapat menjadi murah, tetapi perhatian manusia, kepercayaan, lokasi terbaik, reputasi, pengalaman autentik, dan status tetap terbatas.
Inilah sintesis ketika gagasan Musk, Kotler, dan teori ekonomi dibaca bersamaan. Musk menunjukkan kemungkinan kelimpahan produksi. Teori ekonomi menjelaskan bahwa harga berkaitan dengan kelangkaan dan penilaian subjektif. Kotler mengingatkan bahwa konsumen tidak membeli benda semata-mata; mereka mencari manfaat dan nilai.
Bayangkan robot mampu membangun satu juta rumah. Apakah semua rumah otomatis menjadi murah? Belum tentu.
Robot dapat mempercepat pembangunan, tetapi robot tidak dapat membuat semua orang memperoleh tanah di lokasi yang sama-sama diinginkan. Rumah yang berada di lokasi strategis, menghadap laut, dekat pusat kota, atau memiliki lingkungan tertentu tetap menghadapi kelangkaan lokasi.
Dengan demikian, dunia masa depan mungkin mengalami situasi paradoksal: rumah semakin murah untuk dibangun, tetapi lokasi terbaik semakin mahal.
Teori kelimpahan ini bukan sekadar fiksi ilmiah. Di Indonesia, kita sudah melihat bayangannya. Kasir swalayan mulai digantikan oleh self-checkout, layanan pelanggan dijawab oleh chatbot AI, dan konten media sosial sebagian besar dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan.
World Economic Forum (Future of Jobs Report 2023) memproyeksikan 83 juta pekerjaan akan hilang akibat otomasi pada 2027, namun 69 juta pekerjaan baru akan muncul β menuntut reskilling besar-besaran. McKinsey Global Institute (2023) memperkirakan hingga 23% jam kerja di Indonesia berpotensi terotomatisasi pada 2030, khususnya di sektor manufaktur, ritel, dan layanan pelanggan. BPS (2023) mencatat sektor perdagangan dan jasa masih menyerap Β± 40% tenaga kerja nasional β sektor yang paling rentan terhadap gelombang otomasi.
Namun, perhatikan UMKM di sekitar kita atau start-up lokal yang sukses. Mereka yang bertahan bukan yang paling murah, melainkan yang paling mampu membangun cerita (storytelling), memberikan pelayanan personal, dan menumbuhkan kepercayaan pelanggan. Mesin bisa membuat kopi, tetapi mesin belum bisa menciptakan suasana hangat dan obrolan akrab di kedai kopi lokal. Di sinilah nilai manusia tetap tak tergantikan.
AI sekarang mampu membuat esai, merangkum materi pelajaran, membuat gambar, atau bahkan menulis kode program dalam hitungan detik. Akibatnya, kemampuan teknis semata (hard skill) semakin kehilangan nilai kelangkaannya.
Kita dapat mengamatinya di media sosial: jutaan video dan artikel diproduksi setiap hari. Namun, konten yang benar-benar diingat, dipercaya, dan memiliki dampak adalah konten yang memiliki suara asli (authentic voice), empati, dan integritas. Ketika semua orang dapat berbicara dengan bantuan AI, siapa yang berani berbicara dengan kejujuran dan pengalaman nyata? Itulah yang menjadi langka.
Jawaban jujurnya: tidak ada yang tahu pasti. Namun, kita dapat menimbang secara rasional.
Bahkan jika makanan, pakaian, transportasi, pendidikan digital, dan berbagai kebutuhan dasar menjadi sangat murah, masih akan ada sesuatu yang terbatas: tanah, lokasi, energi tertentu, privasi, waktu, perhatian, reputasi, pengalaman, hubungan sosial, status, dan akses terhadap kekuasaan.
Selama kelangkaan masih ada, manusia masih membutuhkan mekanisme untuk mengalokasikan sumber daya yang langka. Uang β atau bentuk lain dari mekanisme alokasi β akan tetap dibutuhkan, meskipun bentuk dan fungsinya dapat berubah drastis.
Interpretasi yang lebih hati-hati terhadap prediksi Musk bukanlah "uang pasti mati pada 2036", melainkan: fungsi uang dapat berubah jika kebutuhan dasar dapat dipenuhi dengan biaya yang jauh lebih rendah.
Terdapat pertanyaan yang bahkan lebih penting daripada "apakah uang akan hilang".
Jika produktivitas meningkat tetapi kepemilikan AI dan robot terkonsentrasi pada segelintir pihak, produksi yang melimpah tidak otomatis berarti distribusi kekayaan menjadi merata. Sebaliknya, jika produktivitas teknologi dapat diakses dan manfaatnya tersebar luas, AI dapat menjadi sumber peningkatan kesejahteraan yang lebih inklusif.
Maka, debat ekonomi masa depan tidak cukup berhenti pada pertanyaan: "Apakah AI akan menggantikan pekerjaan?" Kita juga perlu bertanya: "Siapa yang menerima manfaat dari produktivitas AI?"
Bagaimana jika pada 2036 yang benar-benar mahal bukan lagi kemampuan menghasilkan barang, tetapi kemampuan mendapatkan akses terhadap hal-hal yang tetap langka: lokasi terbaik, perhatian manusia, kepercayaan, pengalaman autentik, reputasi, jaringan sosial, dan hak untuk menentukan arah teknologi?
Pertanyaan "siapa yang benar" sebenarnya kurang tepat. Musk dan Kotler melihat masa depan dari dua sisi yang berbeda namun saling melengkapi.
Jika ketiganya digabungkan, kita memperoleh gambaran yang jauh lebih kaya daripada sekadar judul sensasional "uang akan tidak berguna".
AI mungkin tidak menghapus ekonomi. AI dapat mengubah apa yang langka, siapa yang memiliki alat produksi, bagaimana harga terbentuk, dan mengapa manusia menganggap sesuatu bernilai.
Mungkin kita tidak perlu menunggu 2036 untuk melihat perubahan tersebut. Hari ini saja, AI sudah membuat kemampuan menghasilkan teks, gambar, kode, desain, analisis, dan berbagai bentuk konten menjadi jauh lebih murah dan cepat.
Jika kemampuan produksi menjadi semakin murah, maka kemampuan manusia yang semakin penting justru berada pada wilayah yang lebih sulit diotomatisasi: penilaian, empati, kreativitas, kepercayaan, kepemimpinan, konteks, etika, dan kemampuan menentukan apa yang benar-benar dibutuhkan manusia.
Masa depan ekonomi bukan tentang siapa yang paling banyak memproduksi, tetapi tentang siapa yang paling dalam memahami dan melayani kebutuhan manusia. Dan itu adalah keahlian yang dapat mulai dilatih mulai hari ini, di ruang kelas, dalam organisasi sekolah, dan dalam interaksi sehari-hari.
Pada akhirnya, uang mungkin tidak benar-benar hilang. Yang berubah adalah alasan mengapa sesuatu memiliki nilai.